Menjadi Penjaga Gawang, Terlihat Mudah Namun Membutuhkan Jiwa yang Besar

Bagi saya menjadi seorang penjaga gawang merupakan suatu kecelakaan. Mengapa demikian? Semua bermula ketika saya mendaftar di Sekolah Sepak Bola (SSB) Cakarmas Berbah. Pertama kali saya bergabung di latihan saya memilih berposisi sebagai penyerang. Debut awal saya di pertandingan ujicoba berhasil mencetak gol bagi tim. Mulai dari situ saya merasa yakin bahwa saya cocok bermain sebagai penyerang. Namun beberapa hari menjelang turnament,kiper dari SSB saya tidak bisa di daftarkan karna telah melewati batas usia pemain. Sampai akhirnya kita semua bingung, mana mungkin suatu tim bermain tanpa seorang kiper. Akhirnya di suatu latihan rutin tiap sore hari,pelatih menunjuk saya untuk mencoba bermain sebagai penjaga gawang.
Bagi sebagian orang yang sering menonton pertandingan sepakbola, menjadi penjaga gawang itu terlihat mudah. Banyak dari mereka menertawakan dan memaki ketika penjaga gawang tersebut melakukan kesalahan. Namun menjadi penjaga gawang tidaklah semudah mereka berbicara. Banyak tekanan ketika kalian baru pertama kali bermain sebagai penjaga gawang di pertandingan resmi. Bahkan ketika kalian baru pertama kali memasuki lapangan untuk bertanding, kalian akan merasa takut untuk bermain karna melihat begitu banyak penonton yang menyaksikan kalian bermain dan mereka seolah memaksa anda untuk memberikan yang terbaik. Dan disaat pertandingan berlangsung seorang kiper melakukan sebuah kesalahan yang berakibat gol maka seolah tamatlah karirnya.
Pernah ketika itu di turnament PAF saya melakukan kesalahan. Saya salah dalam melakukan tangkapan sehingga bola hasil tendangan pemain lawan tersebut masuk ke gawang saya. Ketika itu saya melihat seolah penonton marah dan rekan satu tim kecewa kepada saya. Disitu saya merasa bersalah dan bahkan saya tidak bisa tidur selama 3 hari. Tapi saya mencoba untuk berfikir positif bahwa untuk menjadi tangguh kita butuh kritikan dan cambukan. Dan hal itu benar, saya jauh menjadi kuat dari sebelumnya.

Di pertandingan terakhir saya bermain di Pekan Olahraga (POR) antar SMA yang ketika itu mempertemukan SMA 1 Banguntapan melawan MA Ali Maksum,saya berhasil melakukan penyelamatan yang menurut saya merupakan yang terbaik sepanjang saya bermain. Saat itu terjadi pelanggaran untuk MA Ali Maksum di sebelah kiri dekat kotak penalti saya. Tendangan bebas langsung di berikan oleh wasit. Bola di ambil oleh pemain MA Ali Maksum dan diarahkan ke sudut kanan gawang. Saya berhasil terbang untuk menepis bola itu keluar. Namun pertandingan tersebut berakhir kekalahan untuk tim saya. Dan orang-orang yang menonton tetap menganggap tim saya kalah meskipun saya melakukan penyelamatan penting. Maka demikianlah mengapa menjadi penjaga gawang itu mudah namun membutuhkan jiwa yang besar. Karna disaat kiper melakukan satu kelasahan mereka akan mengingat kesalahannya di sepanjang waktu dan mereka seolah lupa bahwa kiper juga pernah melakukan beberapa penyelamatan penting. 

Komentar